Kehidupan Pak Tatan adalah bagian dari potret kemiskinan di Kab. Batu Bara. Sudah miskin, tua, hidup sebatang kara pula, tak ada yang perduli, bisa menyambung nafas saja sudah syukur baginya.
Pak Tatan tinggal di bibir Pantai Bunga, Desa Bandar Rahmat. Diusianya yang ke 65 tahun, gubuk reyot yang hampir tumbang itu hanyalah harta satu-satunya yang ia miliki. Hidupnya hanya bergantung dari belas kasih masyarakat sekitar. Tak jarang ia harus berpuasa karena nyaris tak ada yang bisa ia makan.
“Jika ada ngasih ya makan, jika tidak, ya tidak makan,” kata Pak Katan dengan nada bergetar.
Pak Katan yang rentah dan mulai sedikit pikun bercerita bahwa dulunya ia hidup dan tinggal bersama almarhumah istrinya, Ainun, di Desa Bagan luar. Sayangnya, ia tidak dikarunai seorang anak karena mengalami sakit yang ia derita.
Nasib Katan tidak seberuntung warga lainnya yang bisa tidur nyenyak di rumah mewah dengan fasilitas yang lengkap. Di usia yang tidak lagi muda, Katan menghabiskan hidup di gubuk reyot tanpa aliran listrik. Jika hujan, gubuknya tidak mampu menahan air sementara jika terik matahari, gubuknya akan terasa pengap dan panas. Sementara jika malam dan sewaktu- waktu air pasang, gubuk miliknya akan terendam air dan ia harus begadang menahankan nya.
Gubuknya nyaris beralaskan tanah, beratapkan langit.
Gubuk milik Katan itu berdinding papan yang dibelinya dari uang yang dikumpulnya dan beberapa keping papan dipungutnya dari sisa-sia yang hanyut di bibir pantai. Langit gubuknya beratapkan Nipah dan seng bekas yang bolong, sedangkan lantainya, beralaskan papan kelapa yang penuh selumba dan mulai lapuk dimakan waktu.
Sudah 4 tahun ia tinggal di gubuk reyotnya, bahkan sesekali nyawanya bisa terancam apabila air pasang teralu tinggi.
Dulunya ia berprofesi sebagai penarik sampan tambang. Namun karena tanaga tak lagi kuat, penyakit pun datang, sekarang ia tidak bekerja dan hanya mengharapkan pemberian warga.
Saat disambangi akses.co, Minggu (5/4/2020), terlihat ada salah satu warga yang datang memberikan makanan berupa nasi dan minuman. Ibu itu bernama Sukma, warga simpang 4, Kec. Tanjung tiram.
Sukma mengaku sangat prihatin dengan apa yang terjadi pada Katan, bahkan ketika masuk digubuknya dirinya harus merunduk dan hati-hati karena lantainya mulai lapuk dan reyot.
“Saya hanya bisa berharap saja, semoga ada bantuan rumah untuk pak katan. Paling tidak, layak untuk ditempatinya,” ungkap Sukma. Alvian Khomeini, akses.co.




